Senin, 19 November 2012

Mungkin Besok Ada atau Tidak



New York, kota ini mengajarkan aku untuk menjadi mandiri, mengajarkan aku untuk memenuhi tanggung jawabku, mengajarkan aku untuk menghadapi hidup, tapi tidak bisa mengajarkan aku untuk mencintai. Kemana waktu itu ? setiap kali aku mengamati kota ini dari jauh, saya merasa lebih dekat dengan papa. Setiap saya merindukannya, saya datang ke sini, Central Park. Aku Alila Angeliana dan ini adalah kisahku .

            Mamaku Tia, setelah papa meningggal dunia tanggungjawab seluruh keluarga jatuh padanya, tetapi ia tidak pernah membiarkan kami untuk merasakan beban penderitaannya. 

            “Saya mengerti Pak Marco, tetapi coba pahami masalah saya. Saya harus melakukan pinjaman. Restoran saya memang menjadi pusat penghasilan saya tetapi di sekitar restoran saya juga terdapat kompetisi sehingga restoran saya sepi pengunjung”.  “Terima kasih” ucap Tia dari seberang telepon rumahnya. 

            “Aku pulang” , ucap Alila sambil menutup pintu.

            “Dari mana kamu ?”, tanya Tia.

            “Central Park”, jawab Alila.

            “Central Park ? mengapa ?”, tanya Tia.

            “Untuk menemui seseorang”, sahut Alila.

            “Siapa ?”, tanya Tia.

            “Menemui pacar. Apakah mama menangis ?”, tanya Alila.

            “Tidak !. Kamu yang menangis.”, jawab Tia. 

            “Tidak, Ma!.”, jawab Alila.

Setiap hari aku dan mama saling berbohong satu sama lain untuk menutupi masalah yang membuat kita menangis. Saudaraku Leon cacat. Dia tidak bisa bermain basket seperti anak-anak lain tetapi dia bisa sangat menjengkelkan seperti anak laki-laki lain. Nenek sayang pada Leon, tetapi tidak pada Gia. Dia sangat membenci Gia. Gia diadopsi oleh Tia, mungkin itu sebabnya nenek tidak menganggap Gia sebagai cucunya. Tiga hal yang diinginkan oleh nenek, yaitu terus menyalahkan Tia atas kematian anaknya yang bunuh diri, ingin aku menikah dengan orang pilihannya, dan menginginkan mamaku meninggal. Satu hal yang tidak aku inginkan, yaitu menikah. Hingga nenek selalu berusaha mencarikan aku seorang laki-laki dan aku harus memilihnya.

Pagiku dimulai dengan cara yang sama seperti setiap harinya. Mama bertengkar dengan nenek yang diikuti dengan pemogokkan marahku dan kemudian mendengarkan obrolan teman kampus sekaligus tetangga saya, Lana. 

            “Ya Tuhan, hari ini hujan. Aku benci hujan.”, Alila mendengus kesal.

..........

Ferdian Ferdinandi, dia adalah sahabatku. Tinggal sendirian di kota New York dan ia telah membuat kemajuan dalam pekerjaannya selama tiga tahun ini. Saya telah belajar dengan dia selama satu tahun di MBA. Dia memiliki buku harian kecil berwarna hitam . Aku ingin tahu apa yang Ferdian tulis dalam buku hariannya itu. Aku pernah bertanya tentang itu, tetapi dia tak memberi tahunya. Ketika aku bertemu pertama kali dengan dia, aku tidak menyukainya sama sekali. Tapi hari ini dia temanku, seorang teman yang sangat dekat. Pada dasarnya dia seorang laki-laki yang baik dan aku dapat menjamin itu. Kau tahu mengapa ? Aku lupa tentang semua masalah keluargaku ketika aku bertemu dengannya.

“Tuhan, jika engkau mendengarkan harap bawa cahaya dalam kegelapan ini, sebuah kedamaian kecil.”, sebuah kata yang ku ucapkan dalam doaku malam ini.

            Hari ini, di kota New York cuaca memang sedang tidak bersahabat. Dinginnya malam pun menyelimuti tubuhku. Esoknya tiba-tiba musim berubah, tidak ada yang tahu bagaimana menyingkirkan awan suram itu dan matahari tersenyum pada kita semua.

……….

            Sementara itu, Dani Mardian datang dalam lingkungan keluarga kami. Tetangga baru yang ikut campur tangan karena melihat kesedihan keluarga kami. Saat itu pula, pertama kali ku melihatnya ku merasa tak suka padanya karena sikapnya yang ikut campur. Tak hanya perubahan dalam keluargaku, tetapi perubahan dalam lingkungan sekitar rumah kami yang semula membosankan menjadi menyenangkan sejak kehadirannya.

            “Mengapa Anda tertawa? Saya tidak percaya ini lucu.” , Alila mendengus kesal.

            “Normal orang menemukan situasi lucu seperti ini. Apakah Anda mencoba untuk mengatakan bahwa aku tidak normal?”, jawab Dani.

            “ Menurut saya anda memang tidak normal. Sejak pagi Anda telah bersikap seperti kamu sudah mengenal kami selama bertahun-tahun. Apa yang terjadi ? Ada masalah ?”, Alila pun kembali bertanya.

            “Masalah ? Ya, mengapa kamu merasa bahwa beban seluruh dunia ada di bahu kamu. Siapakah kamu ? Apa gunanya berdoa kepada Tuhan bila kamu tidak tahu bagaimana menghargai kehidupan yang telah diberikan.”, jawab Dani tak mau kalah.

            “Apa yang kamu ketahui tentang kehidupan saya ?.”, ucap Alila.

            “Tidak banyak, tapi cukup untuk mengatakan bahwa di mata kamu mungkin kamu tidak mempunyai banyak. Tetapi lihatlah hidup kamu melalui mata orang lain dan kamu akan tahu bahwa kamu memiliki banyak kehidupan. Aku akan mengajarkan kamu untuk tersenyum, tapi oh Tuhan, kamu sangat sulit tersenyum dan kamu perlu untuk berlatih agar senyum itu dapat kembali.”, kata Dani.

            “Lupakan. Aku minta maaf aku tidak bisa.”, jawab Alila yang kemudian sembari meninggalkan Dani.

Aku terus berpikir sepanjang malam. Apakah aku benar-benar lupa cara untuk tersenyum ?.

……….

Malam itu, dimana Alila, Dani, dan Ferdian keluar bersama dan Dani menggandeng mereka berdua. Tiba-tiba Alila sedih, dia teringat saat papanya menggandeng tangannya setiap pergi ke sekolah dulu seperti yang dilakukan Dani saat ini.

            “Aku sangat rindu papa. Aku tidak tahu mengapa dia meninggalkan kami dan pergi. Aku merindukannya”, ucap Alila sedih.

            “Dengar Alila, kamu tidak terlihat manis ketika kamu menangis. Kau tampak baik saat marah. Setiap kamu merindukan papamu, pikirkan aku maka kau akan marah. Aku benar-benar seperti kamu. Hariku tak lengkap sampai aku bisa bertemu dengan ayahku.”, kata Ferdian sembari menghibur Alila yang menangis tiba-tiba karena merindukan papanya.

Alila melepaskan pegangan tangannya dari Dani dan menggandeng tangan Ferdian sembari berjalan pulang meninggalkan Dani yang tertinggal di belakang. Tetapi saat itu juga, Dani merasa bahagia bisa melihat sekilas senyum di bibir Alila malam itu.

……….

            “Kamu?.”, kata Alila.

            “Kamu?. Apa yang kamu lakukan di sini?. Kemanapun aku pergi kamu mengikuti aku. Tolong tinggalkan aku sendiri. Alila, maaf aku hanya bercanda. Dengar, Aku ingin mengatakan sesuatu kepada kamu.”, kata Dani.

            “Aku tidak ingin mendengarkan apapun.”, jawab Alila ketus.

            “Kemarin malam, untuk pertama kalinya aku merasa bahwa kamu seperti semua gadis-gadis yang lain. Tapi untuk beberapa alasan, kamu ingin menyembunyikan gadis yang ada dalam dirimu. Satu hal lagi, dimanapun dia, papa kamu memandangi kamu, kamu marah, kamu sedih, dia mengawasi semua dan mungkin dia juga menangis dengan kamu. Sekarang kamu tidak bisa menghapus air matanya dari sini, namun kamu dapat menghentikan itu dengan tersenyum dan tertawa. Dengan lesung pipi yang kamu punya.”, ucap Dani.

Sihir Dani telah tersebar di seluruh penjuru keluargaku. Mereka semua mulai menyayangi Dani. Apakah Dani adalah malaikat yang di kirim Tuhan pada keluarga kami ? Seperti yang mama bilang pada Leon dan Gia. Entahlah, namun bagiku, aku mulai tersenyum. Aku telah belajar untuk tersenyum yang menurutku itu menakutkan. Begitu banyak kebahagiaan dan bagaimanapun kesedihan itu hanyalah sebuah tikungan.

..........

Restoran Tia mulai mengalami kemunduran. Hampir setiap hari tempat itu sepi pengunjung. Dua bulan ke depan mereka harus meninggalkan kota ini karena tagihan hutang yang belum sempat di bayar. Saat itu juga Dani berada di restoran mereka. Ia mendengarkan keluhan Tia dan ia mulai berfikir. Mencoba membantu menghidupkan kembali keuangan mereka. Akhirnya Dani pun menjelaskan maksud rencananya. Ia mendorong keluarga Alila untuk mencoba merubah menu makanan yang mereka sajikan dimana menu yang akan dipilih adalah menu tradisional negara asal yang tidak ada di New York. Mereka pun setuju dan menu tersebut diganti dengan menu negara asal mereka, yaitu menu masakan Indonesia. Satu per satu pengunjung pun mulai berdatangan untuk mencoba makanan di restoran itu. Akhirnya usaha mereka berhasil. Berkat bantuan Dani dan kerja sama keluarga Alila, restoran tersebut dapat bertahan. Kini hidup mereka berangsur-angsur semakin baik. 

Ternyata benar yang mama katakan, menurutku Dani adalah malaikat yang di kirim Tuhan untuk menolong mereka. Dia membuat bahagia Tia dan juga seluruh keluarga Alila. Dia mengembalikan senyum Tia yang sempat hilang terhapus air mata. Alila pun mulai jatuh cinta kepadanya dan Ferdian jatuh cinta pada Alila. Dani terpaksa berbohong kepada Alila bahwa dia telah menikah dengan Arleena yang sebenarnya adalah dokter yang merawatnya. Dia melakukan itu karena dia sadar akan sakit parah yang di deritanya. Dia tahu bahwa waktunya di dunia hanya tinggal menghitung hari. Dan dia pun tahu walaupun dia mencintai Alila, tetap saja dia tidak akan bisa bersamanya. Dani mengorbankan cintanya untuk melihat Alila bahagia bersama Ferdian, karena dia juga tahu bahwa Ferdian sangat menyayangi Alila. Walaupun memang tidak mudah untuk melupakan cinta pertama.

..........

            Mengetahui bahwa Dani telah menikah, hati Alila sakit. Ia berlari menuju Central Park tempat yang menjadi kenangan dia bersama papanya dulu. Ia menangis sendiri, namun Tia pun datang menghampirinya.

            “Kamu mencintai Dani dan dia sudah menikah. Mengapa kamu jatuh cinta Alila?.”, ucap Tia.

            “Kalau aku tahu sebelumnya, apakah aku telah jatuh cinta ?. mengapa mama menangis?”, tanya Alila.

            “Karena aku tau kamu baik.”, kata Tia.

            “Aku cinta dia, mama. Aku benar-benar mencintainya. Mengapa aku mencintainya? Mengapa hal ini terjadi kepadaku? Apa yang harus aku lakukan?.”, seru Alila.

            “Semua akan baik-baik saja. Aku tahu malaikat kita melihat kita sekarang. Dia akan memastikan bahwa kamu akan hidup dengan penuh kasih sayang lagi. Dia akan mengajarkanmu untuk mencintai lagi dan kamu akan jatuh cinta lagi. Bahkan Dani ingin mengisi hidup kamu dengan cinta Ferdian.”, Tia meyakinkan Alila.
 
..........

“Satu detik..satu detik. Seberapa jauh kau bisa lari dari saya?.” cegah Ferdian saat Alila menghindarinya.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Aku pikir kamu sudah gila. Selama tiga hari aku telah mencoba mencari dimana kamu. Ketika aku membutuhkan temanku, kemana saja kau?.”, ucap Alila.

“Aku lelah, aku benar-benar lelah menjadi temanmu.”, kata Ferdian.

“Apa?.” jawab Alila.

“Apa?, apa ? Bila kamu ingin tertawa itu Ferdian, Bila kamu ingin menangis itu Ferdian, tetapi ketika kamu harus mengasihi seseorang itu lain. Ini tidak akan terjadi lagi kan?.” Ucap Ferdian yang membuat Alila semakin bingung.

“Apakah kamu baik-baik saja Ferdian?.”, tanya Alila heran.

“Dengarkan aku Alila, Kita adalah teman bukan? Orang yang sangat pintar telah mengatakan bahwa langkah pertama untuk mencintai adalah persahabatan. Kita telah bersahabat dan aku ingin menjadi lebih dari seorang sahabat.”, kata Ferdian sembari meninggalkan Alila.

Aku ingin tahu apa yang dimaksud Ferdian. Hari itu aku merasa Ferdian harus berhenti menjadi temanku. Ia telah menjadi sesuatu yang lain. Dan apa sesuatu itu, aku tidak tahu. Atau apakah aku memang tidak tahu?.

..........

            “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu dan tolong dengarkan. Alila, untuk mempertahankan seumur hidup, setiap hubungan harus memiliki kekuatan bersama dengan cinta. Papa kamu menyayangi kita, tetapi ia adalah orang yang lemah. Dia meninggalkan kita semua dan pergi bahkan tanpa berpikir sesaat apa yang akan terjadi pada kita setelah dia meninggal. Tapi Ferdian tidak lemah, ia sangat mencintai kamu.”, ucap Tia kepada Alila.

            Setelah Alila mendengarkan nasehat mamanya, ia segera menelepon Ferdian. Ia ingin bertemu Ferdian malam ini. 

“Aku tahu kamu tidak mempunyai cinta untuk kau berikan padaku hari ini. Tapi aku yakin suatu hari nanti kamu akan memilikinya. Dan aku akan menunggu hari itu karena aku tau hari itu pasti datang.”, kata Ferdian pada Alila malam itu.

            Ferdian melamar Alila saat itu juga dan dia menerima lamaran itu.

..........

Setelah menghadiri pesta pernikahan Ferdian dan Alila, Dani masuk rumah sakit. Kondisinya semakin memburuk. Semua orang telah berkumpul di kamar Dani di rawat untuk menjenguknya. Ia tak berhasil mendapatkan transplantasi untuk jantungnya tapi ia berhasil menggunakan kesempatan waktunya untuk membahagiakan orang lain yang dia pun tidak bisa merasakan itu semua pada dirinya sendiri. Dia telah membuat bahagia Tia, mama Alila. Dia telah membuat bahagia Alila yang sekarang telah bersama Ferdian. Dia telah membuat bahagia Gia yang sekarang telah di anggap menjadi cucu nenek Alila berkat kebenaran dari surat mama kandung Gia yang dikirimkan untuk Tia yang dia katakan pada nenek Alila. Bahwa Gia adalah hasil hubungan terlarang suami Tia dengan orang lain dan Tia pun mau menerima Gia sebagai anaknya dimana ibunya sendiri tidak bisa menerima Gia. Dan Dani pun bahagia bisa melihat orang sekelilingnya bahagia karena kehadirannya untuk yang terakhir kalinya. Akhirnya Dani dapat beristirahat tenang di sisi Tuhan.

..........
 
Dua puluh tahun kemudian ...

            Dani, adalah sebuah kenangan yang semuanya berhubungan denganku dan akan selalu aku simpan di hatiku. Dia cinta pertamaku dan aku tidak akan bisa melupakan dia. Dia mengajarkan cinta padaku, mengajarkanku untuk mencintai kehidupan, mengajarkanku untuk mencintai diriku sendiri, dan mengajarkanku untuk mencintai Ferdian. Kita tidak akan pernah bisa melupakan dia. Impian setiap gadis ingin menemukan seorang teman baik dalam suaminya dan aku beruntung menemukan suami dalam sahabatku. Aku Alila Angeliana dan ini adalah kisahku.




WRITTEN BY : RACHMAWATI UTAMI

2 komentar: